UPTD Puskesmas Haekesak Gelar Sosialisasi Kesehatan Jiwa

Foto: Evo/ Sosialisasi Kesehatan Jiwa oleh Kabid P2P Dinkes Kab. Belu

Beisarinlo’o_TOHE.DESA.ID. UPTD Puskesmas Haekesak menggelar Sosialisasi Kesehatan Jiwa sebagai salah satu program untuk menangani masyarakat penderita Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Masalah kesehatan jiwa hingga kini belum menjadi perhatian yang serius oleh para pihak, justru masih ada stigma dan diskriminasi orang dengan gangguan Jiwa. Padahal siapapun bisa mengalami masalah kesehatan Jiwa, tak pandang status sosial dan ekonomi. Kegiatan berlangsung pada Jumat (28/08) bertempat di Kantor Desa Tohe-Beisarinloo, Kecamatan Raihat.

Seiring kemajuan dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tegnologi,  masalah kesehatan jiwa semakin mendapat perhatian masyarakat dunia. Satu atau lebih gangguan jiwa dan perilaku dialami oleh 25% dari seluruh penduduk pada suatu masa dari hidupnya. World Health Organization (WHO) menemukan bahwa 24% pasien yang berobat ke pelayanan kesehatan primer memiliki diagnosis gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang sering ditemukan di pelayanan kesehatan primer antara lain adalah depresi dan cemas (World Health Report 2001).

Rosa Gaudensiana Asa, S. KM selaku narasumber  utama dalam paparan materinya mengungkapkan bahwa “Penanganan kesehatan jiwa di Indonesia merupakan salah satu masalah yang sering mengalami banyak kendala. Salah satu kendala utama yakni stigma negatif di masyarakat terhadap ODGJ. Menurutnya, para ODGJ masih kerap mendapatkan diskriminasi dan perlakuan yang tidak manusiawi, bahkan oleh keluarga mereka sendiri.  Dampaknya ialah terjadinya tindakan kekerasan, kenakalan remaja, penyalahgunaan napza, tawuran, pengangguran, demonstrasi, anarkis, putus sekolah, PHK, gangguan psikosomatik, depresi, cemas dan lain-lain.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabuten Belu itupun menghimbau kepada seluruh masyarakat supaya lebih peka terhadap segala perilaku dalam keluarga masing-masing. Apabila ada perilaku yang tidak seperti biasanya, bisa jadi itu merupakan gejala awal atau tanda-tanda dari gangguan Jiwa. Masalah kesehatan mental bisa dicegah, misalnya dengan menciptakan lingkungan yang nyaman, hingga mengelola stres. Ia mengharapkan agar dengan adanya sosialiasi ini masyarakat/keluarga atau Orang dengan gangguan jiwa harus diperlakukan sama dan selalu mendapatkan dukungan penuh dari keluarga.

Pada sesi lain Dokter Abraham yang bertugas di Puskesmas Haekesak melaporkan terdapat sembilan (9) orang dengan gangguan jiwa berat di Desa Tohe. Gangguan Jiwa bukanlah penyakit yang mematikan, tetapi “memiskinkan”.  Banyak pemicu masalah kesehatan jiwa yang bisa terjadi pada siapa saja. Secara medis, orang yang mengalami gangguan Jiwa dapat disembuhkan apabila gejala gangguan Jiwa tersebut dapat terdeteksi secara dini, sehingga dapat segera ditindak lanjuti. Orang orang seperti ini harus mendapat perhatian penuh dari pemerintah sehingga untuk pengobatan mereka saat ini ditanggung pemerintah melalui BPJS.

Dokter menyarankan agar masyarakat tidak memotret atau membuat video pada orang dengan gangguan jiwa kemudian diunggah ke media sosial karena yang sebenarnya mereka mempunyai harapan besar untuk kembali sembuh. Ketika mereka pulih dan melihat kembali foto atau video yang beredar di media maka akan sangat menggangu dan bisa jadi penyakitnya akan kambuh dan orang tersebut kembali pada kondisi gangguan lagi.

Pendampingan dari keluarga sangat  diperlukan bagi penderita gangguan kejiwaan, dari Puskesmas hanya sebatas penyuluhan dan pengobatan. Menurut dr. Abraham orang yang menderita gangguan Jiwa bisa disembuhkan, dan nantinya bagi pasien yang sudah membaik, Puskesmas bekerjasama dengan Dinas Sosial akan memberikan pelatihan-pelatihan yang nantinya bisa mereka terapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Apresiasi dari masyarakat desa terkait sosialisasi kesehatan jiwa diungkapkan oleh seorang peserta Suri Leon (32) ia berharap agar kegiatan sosialisasi terkait kesehatan jiwa ini terus dilakukan dan digaungkan kepada seluruh masyarakat tidak hanya di desa Tohe mengingat kegiatan kemanusiaan seperti ini sangat minim dan jarang dilakukan padahal terdapat sejumlah orang yang mengalami gangguan jiwa berat yang sebenarnya bisa disembuhkan namun karena berbagai faktor seperti pengetahuan dan perhatian yang minim dari orang di sekitar termasuk keluarga sendiri semakin memperburuk keadaan dan sering terjadi di masyarakat mereka mendapat perlakuan yang tidak semestinya diusir dan diterlantarkan.

Menanggapi usulan dari peserta terkait minimnya sosialisasi terhadap masalah Kesehatan Jiwa dari dinas kesehatan Kabid Rosa mengakuinya hal ini dikarenakan kurangnya kerja sama antara para pihak dan lemahnya penjaringan di tingkatan masyarakat. Oleh karenanya Ia berharap agar adanya kerja sama yang baik antara masyarakat, pemerintah dan petugas sehingga bisa berperan dan berupaya agar orang yang mengalami kesehatan jiwa bisa dibawa ke fasilitas kesehatan untuk ditangani secara medis.

“Ada anggaran yang dialokasikan oleh Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Kesehatan untuk menangani masyarakat khusus yang mengalami gangguan jiwa baik melalui BPJS maupun Jamkesda”, tambah Kabid P2P.

Ia juga menghimbau kepada masyarakat untuk selalu memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar dan kepada Pemerintah desa agar bersama masyarakat mengoptimalkan kegiatan jumat bersih.

Hadir pada kegiatan sosialisasi ini, Kabid P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, Dokter Abraham, Sekretaris Desa Tohe, Ketua BPD Tohe, utusan keluarga yang mempunyai orang dengan gangguan jiwa, para Kepala Dusun dan RT. (Admin)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan