LEMBAGA PENDIDIKAN VOKASI (SMK) JANGAN HANYA MENCETAK IJASAH

Foto: Jhonser/ Kunjungan Kerja Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan SMA/SMK di Raihat

LEMBAGA PENDIDIKAN VOKASI (SMK) JANGAN HANYA MENCETAK IJASAH

Secuil Tukikan Reflektif-Imperatif Kadis P&K Provinsi NTT Dalam Kunjungan Kerja ke SMKN Raihat, 12 Februari 2020

Pendidikan sebenarnya adalah upaya pencerdasan manusia. Tujuan lembaga pendidikan vokasi (SMK) seharusnya membawa pemberdayaan dan pembebasan bagi manusia seutuhnya.Tujuan pendidikan vokasi ini selalu berlandaskan pada kebutuhan dan potensi lokal masyarakat setempat. Sebagai guru yang berkiprah di tapal batas, kita berkomitmen untuk mencerdaskan  manusia tapal batas, manusia di Haekesak ini. Kita harus memiliki semangat melayani dan membangun  dari Haekesak.  Namun, fakta bertutur bahwa lembaga pendidikan vokasi di NTT ini masih menciptakan penganggur,  sehingga menambah jumlah angka pengangguran intelektual (pengangguran kaum terpelajar) di republik ini.

Mengapa hal ini terjadi?

Samangat pelayanan guru terhadap murid masih sangat rendah. Pelayanan kita ada yang menggembirakan dan ada pula yang menyedihkan dan memprihatinkan. Menggembirakan karena ada yang benar-benar memiliki spirit pelayanan yang optimal sehingga memberi warna khas bagi tamatannya, dan menyedihkan dan memprihatinkan karena semangat pelayanan kita yang masih rendah sehingga tidak membawa pemerdekaan dan pemberdayaan bagi tamatan.

Tujuan pelayanan kita adalah melakukan kebaikan. Dari kebaikan itu kita mendapat kontribusi. Kontribusi kita itu harus mendatangkan perubahan. Namun, perubahan itu belum terwujud. Lembaga pendidikan vokasi SMK hanya berkutat dengan angka yang tertulis secara rapi di ijasah. SMK hanya mencetak ijasah dan sesudah itu, ia (siswa SMK) keluar tanpa kompetensi dan skill. Lebih lanjut beliau menekankan bahwa pariwisata sebagai prime mover (penggerak utama) untuk peningkatan ekonomi masyarakat NTT.

Apa peran lembaga pendidikan vokasi?

SMK sebagai lembaga pendidikan vokasi memiliki kompetensi di bidang itu untuk mendongkrak peningkatan ekonomi masyarakat. Setiap tahun SMK menamatkan 5000- an siswa. 5000-an siswa itu harus sungguh berkompeten. Pada Desember 2019 sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa perhotelan di Kota Kupang membuka lowongan untuk 20 orang siswa tamatan SMK, dengan konsentrasi kompetensi keahlian tata boga. Yang melamar 200 orang, usai dilakukan seleksi, sayangnya yang diterima hanya 2 orang. Realitas ini menunjukkan bahwa kita masih berkutat dengan angka (nilai di atas kertas).

Apa yang salah dengan proses pendidikan kita sehingga siswa yang tamat tidak berkompeten?

Semua persoalan penggangguran kaum terpelajar yang meningkat dan persoalan rendahnya kualitas siswa jebolan lembaga pendidikan vokasi menjadi tanggung jawab bersama. Kita jangan diam dan berjalan di tempat. Kita harus berupaya dan memiliki semangat pelayanan yang optimal. Kurikulum SMK sudah baik, 70% praktik dan 30% teori. Hanya kita masih lengah dalam proses pelaksanaan.

Saatnya kita bangkit melalui pendidikan vokasi. Kita harus berubah. Guru profesional adalah guru yang berkompeten dan selalu menciptakan kebaruan. Tentu kebaruan yang membawa perubahan, pemberdayaan dan pemerdekaan bagi siswa. Karena tugas guru adalah memberi diri melalui pelayanan yang prima. Apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab guru perlu dikerjakan dengan penuh kerelaan dan kerendahan hati.

Guru jangan menipu diri. Guru harus paham dan tahu mana yang seharusnya tidak boleh terjadi dan mana yang seharusnya terjadi. Tugas dan komitmen guru adalah berupaya memperjuangkan apa yang seharusnya terjadi. Kalau guru memberi pelayanan berlandaskan pada apa yang seharusnya terjadi (memberikan kontribusi pelayanan berdasarkan potensi dan kebutuhan lokal), tentu lembaga pendidikan vokasi tidak sekedar mencetak angka yang tertulis rapi dalam ijasah.

Dalam lawatan ini beliau menekankan bahwa nasib anak jangan ditinggalkan. Terkait hal ini, ada beberapa poin penting yang perlu di lihat bersama. Pertama, Uma bot (Dinas P&K) dan uma toos (sekolah) memiliki hubungan. Kita perlu bersinergi untuk meningkatkan kualiatas tamatan SMK.

Kedua, Bapak/Ibu Tenaga Kontrak tetap bekerja memberikan pelayanan yang optimal kepada siswa karena SK tenaga kontrak menyusul dan yang lain, yang menjadi hak dan kebutuhan pun ikut menyusul.

Ketiga, Dana BOS tahun 2020 terdapat perubahan. Untuk menjawab merdeka belajar episode 3 dana BOS digunakan untuk peningkatan proses pembelajaran dan peningkatan tamatan siswa SMK  tetapi  digunakan  pula  50%  untuk  pembayaran  honor.  Namun, realisasinya disesuaikan dengan kondisi sekolah.

Keempat,  perekrutan  guru  kontrak  baru  belum  ada.  Yang  ada  hanya  perpanjangan tenaga kontrak. Sedangkan tenaga kontrak lama yang sudah menjadi ASN atau sudah tiada untuk penggantinya akan diseleksi oleh bidang GTK dan disesuaikan dengan kebutuhan prioritas. Jumlah tenaga kontrak yang akan diganti tahun ini berjumlah  90-an  orang.  Namun, untuk sementara pihak dinas melalui bidang GTK masih melakukan verifikasi terhadap data guru kontrak yang melakukan perpanjangan kontrak.

Kelima, usulan NUPTK boleh gunakan SK insentif bagi guru honorer komite. Pengurusan NUPTK tidak susah, hanya mekanisme dan aturan yang berubah-ubah. dan Dapodik perlu di-update setiap saat.

Keenam, sekolah perlu memberikan kontribusi untuk peningkatan PAD Provinsi. Terkait hal ini, SMK Negeri Raihat melalui perwakilan keempat Kakomli bersepakat dan berkomitmen  memberi  kontribusi  RP.  15.000.000,- untuk  mendongkrak  PAD  provinsi NTT pada tahun anggaran 2020 ini. **SEMOGA** ###JOHN’S###

Penulis: Yohanes Seran, S.Pd (Guru SMKN Raihat)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan