Puskeswan Imbau Masyarakat Waspada Virus ‘ASF’ di Raihat

Foto: Sun/ Sosialisasi dan Upaya Pencegaan Virus ASF

Wemori_TOHE.DESA.ID. Semakin maraknya penyebaran virus ASF (African Swine Fever) di Timor Leste dan isu penyebarannya di Indonesia khususnya daerah-daerah perbatasan RI-RDTL selama ini membuat masyarakat sekitar resah. Sebagai upaya pencegahan dan antisipasi penyebaran ASF ke wilayah sekitar perbatasan di Raihat, Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Raihat pada (Jumat, 11/10) memberikan himbauan kepada masyarakat kecamatan Raihat yang  secara langsung berbatasan dengan wilayah Timor Leste untuk tidak panik dan terus mengupdate pengetahuan tentang informasi  dan gejala virus yang selama ini beredar.

African Swine Fever atau Virus demam babi Afrika adalah virus DNA berstandar besar dalam keluarga Asfarviridae. Penyebab demam babi Afrika. Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian yang tinggi pada babi domestik; beberapa saat dapat menyebabkan kematian hewan secara cepat yakni satu minggu setelah infeksi. ASF adalah virus mematikan dan menular sangat cepat, namun virus ini tidak menular ke manusia.

Berikut ciri-ciri ternak babi yang terinfeksi ASF, demam tinggi pada babi dan kulitnya memerah, hilang nafsu makan, muntah, batuk berdarah, hidung berlendir, pendarahan pada kulit dan organ dalam, lemas dan gangguan koordinasi alat gerak.

Menurut Drs, Nikolaus Umbu K. Birri, MM selaku Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu menyampaikan bahwa African Swine Fever (ASF)/ Demam Babi Afrika di Indonesia belum ada, tetapi penyakit ini sudah menyebar ke hampir seluruh Cina bahkan saat ini di Timor Leste sesuai  dengan informasi yang diterima dari Badan Feterina Timor Leste. ASF berbeda dengan virus Clasical Swine Fever (hoc Cholera), virus ini 100% mematikan jika sudah kena babi dan hingga kini vaksin maupun obat-obatan belum ada. Namun karena sudah ada wabah di Timor Leste maka sesuai edaran dari Menteri Pertanian yang membidangi Peternakan bahwa sudah seharusnya dilakukan upaya-upaya pencegahan yang dapat dilakukan melalui, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE). (Dikutip dari Instagram kominfo.belu).

Foto: Sun/ Gaudensius Fahik, S.Pt- (P3M-Puskeswan Raihat), Himbau Masyarakat Raihat Waspada Virus ASF.dari Timor Leste

Untuk wilayah sekitar perbatasan khususnya di wilayah Kecamatan Raihat hingga saat ini masih aman dan belum ada tanda-tanda adanya wabah penyakit ASF (African Swine Fever). Namun, sesuai dengan instruksi dari dinas terkait untuk melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap virus, maka kami menghimbau kepada masyarakat perbatasan di wilayah Raihat untuk tidak panik dan tetap melakukan aktifitas seperti biasa. Masyarakat juga tetap terus mengikuti informasi dan perkembangan isu penyakit ini dan perlu tau gejalanya dan yang paling penting adalah masyarakat tidak boleh membawa ternak babi atau dagingnya dari tetangga sebelah (Timor Leste) sehingga ternak babi yang ada di wilayah Raihat tidak terinfeksi Virus ASF. Papar Gaudensius Fahik, S.Pt selaku Petugas Pembantu Peternakan Mandiri (P3M) pada Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Raihat.

Berikut instruksi Pemerintah Kabupaten Belu, Nomor: Dinas PKH.524.3/537/X/2019, menindaklanjuti Surat Edaran Menteri Pertanian Nomor: 300062/PK.310/F/08/2019 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Penyakit African Swine Fever (ASF) tanggal 30 September 2019 sebagai berikut:

  1. Apabila mengetahui Kematian Babi Secara Mendadak segera melaporkan kepada petugas teknis peternakan terdekat atau Kepala Desa.
  2. Karena penularan ASF potensial melalui manusia dan ternak babi serta produknya maka bagi petugas atau tamu yang mengunjungi kandang ternak wajib menerapkan prosedur biosekuriti.
  3. Mencegah kontak langsung anatara babi liar/babi yang dilepas dengan babi yang dikandangkan.
  4. Wajib memiliki SKKH bagi babi yang baru dibeli atau berada di tempat baru.
  5. Dilarang memberikan limbah dapur asal ternak babi kepada babi yang sehat.

Penulis: Admin

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan