Catatan Seorang Guru Perbatasan Menyikapi Kebijakan Mengenai Gerakan Menuju NTT Bersih dan NTT Cerdas

Foto: Lodi/Kegiatan Literasi di Sekolah SMKN Raihat - Belu

Haekesak_tohe.desa.id. Hari ini (15/12/2018), secara bersamaan di seluruh wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilangsungkan dua kegiatan akbar, yakni kegiatan membersihkan lingkungan sekolah dan sekitarnya serta menanamkan dan membangun budaya literasi dengan maksud untuk meningkatkan mutu manusia NTT. Ini merupakan suatu terobosan yang patut diacungi jempol, karena kemajuan suatu wilayah sangat ditentukan oleh pembangunan manusia. Pendidikan menjadi suatu jalan yang perlu dilewati untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia.

Foto: Lodi/Kegiatan Literasi di Sekolah SMK N Raihat – Belu

Masih segar dalam ruang memori orang NTT, pada awal desember 2017 bumi Flobamora seolah diselimuti kabut tebal lantaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, memberikan pernyataan  terkait hasil survei dari Program for International Students Assesment (PISA) tentang rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Pak Menteri berkata, saya kuatir yang menjadi sampel sebagai penelitian adalah siswa-siswi NTT”. Pernyataan ini menuai protes dari berbagai kalangan termasuk akademisi dan orang NTT yang bergabung dalam Komunitas PENA. Aksi protes ini muncul karena pernyataan tersebut secara semantik bernada konotasi negatif. Kendati demikian, terdapat pula yang menyarankan proposisi ini dimaknai secara positif.

Sebagai pendidik, akademisi, jurnalis dan masyarakat NTT umumnya tidak boleh unjuk gigi. Yang perlu dibuat untuk menyikapi persoalan ini adalah unjuk kerja. Yang menjadi masalah rendahnya mutu pendidikan di NTT adalah  tidak tersedianya angaran yang memadai untuk meningkatkan mutu pendidikan. Pemerintah Daerah misalnya, belum mengalokasikan dana yang cukup untuk pendidikan sesuai aturan yang tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas 2003. Pemerintah DKI misalnya, selalu mengalokasikan dana tiap tahun yang cukup untuk pendidikan sebesar 20% lebih. Hal ini menunjukkan bahwa orientasi pemerintah DKI untuk pendidikan bukan sekedar slogan yang tertuang dalam baliho atau sekedar ungkapan retoris sewaktu kampanye di lorong-lorong kampung kumuh. Peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan pembangunan manusia memerlukan terobosan disertai dengan tindakan praktis-konkrit.

Foto: Lodi/ Kegiatan Pembersihan lingkungan sekolah SMKN Raihat -Belu

Peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari dana. Di NTT, banyak guru honorer komite pendapatannya di bawah pelayan tokoh, kendati mereka bergelar sarjana. Jumlah uang diperoleh sebulan berkisar Rp. 250.000 ke atas. Sementara pelayan toko kebanyakan pendapatannya sudah berkisar Rp. 500.000 ke atas, bahkan di perusahaan tertentu sudah mulai membayar sesuai dengan standar Upah Minimum Propinsi (UMP).  Untuk memenuhi dan mempertahankan kelangsungan hidup, mereka harus mencari pekerjaan sampingan seperti ojek, berkebun atau pekerjaan lain yang menguntungkan. Secara sarkastis, dapat dikatakan bahwa para guru Honorer di NTT masih berkutat untuk mempertahankan hidup, belum bergerak untuk menafkahi hidup. Dengan pendapatan yang sungguh memilukan dan menyedihkan ini, apakah para guru honorer dapat bekerja secara optimal untuk meningkatkan mutu pendidikan? Ketika berdiskusi dengan seorang teman guru, dengan nada serius tapi penuh sinis berkata; alam sungguh berpengaruh terhadap hidup dan kehidupan itu sendiri. Seekor Babi, misalnya dia akan berteriak  bila tidak diberi makan, bila kenyang pasti akan tenang. Bila mengutip pandangan Kenneth Burke pencetus teori dramaturgi, bahwa gerakan dan teriakan binatang itu memiliki makna dan maksud tertentu. Aksi yang dilakukan secara sadar ini memberi stimulus bagi pemerintah untuk membuat kebijakan yang memihak pada mereka. Bila kebijakan yang dibuat menguntungkan tenaga guru honorer, secara niscaya program apapun yang dirancang untuk meningkatkan mutu pendidikan akan terwujud.

Selain faktor anggaran pendidikan yang masih rendah, terdapat pula persoalan sarana dan prasarana yang belum memadai. Sebagai contoh, Perpustakaan yang merupakan jantung pendidikan belum ditata secara baik. Setiap sekolah mesti memiliki ruang perpustakaan yang memadai dan memiliki buku/referensi yang cukup karena perpustakaan adalah gudang ilmu. Setiap sekolah, perlu berlangganan dengan koran lokal dan nasional, dan mendatangkan jurnal-jurnal yang sudah terakreditasi yang berisi penelitian dan kajian mendalam dalam bidang ilmu tertentu.  Di SMK yang memiliki kompetensi keahlian Agribisnis Ternak Ruminansia (ATR), ATPH dan Teknologi Jaringan Komputer (TKJ), misalnya perlu berlangganan dengan jurnal pertanian, peternakan, dan jurnal Informasi dan Teknologi. Pengadaan jurnal ilmiah ini penting karena berisi uraian ilmiah tentang bidang ilmu tertentu. Pengalaman mengabdi di SMK, selama ini setiap sekolah belum berlangganan dengan jurnal ilmiah, kalaupun ada hanya di sekolah tertentu yang anggarannya sangat mencukupi. Sementara sekolah-sekolah lain hanya tersedia anggaran untuk pengadaan buku teks pelajaran, belum bisa berencana untuk pengadaan jurnal karena anggaran tidak cukup. Dalam tautan dengan realitas ini, mungkinkah pemerintah propinsi memberi bantuan kepada setiap sekolah untuk pengadaan buku-buku ilmiah lainnya untuk menambah wawasan dan horison berpikir siswa dengan guru?

Foto: Lodi/ Kegiatan Literasi dan Pembersihan lingkungan sekolah SMKN Raihat-Belu

Gerakan NTT Bersih, NTT Cerdas merupakan suatu terobosan yang perlu diacungi jempol, sebab ini merupakan suatu tanggapan yang bijaksana dan cerdas terhadap stigma negatif yang selalu disematkan kepada masyarakat NTT, yang sering diberi akronim “Nasib Tak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong”. Terobosan ini merupakan suatu upaya untuk membentuk mentalitas orang NTT yang cendrung membuang sampah sembarangan dan masih mengandalkan budaya oral dalam setiap laku hidup, dan belum membangun kebiasaan dengan budaya baca tulis. Ini adalah suatu terobosan yang sungguh berdasar, karena orang cerdas itu tidak turun dari langit. Membangun kebiasaan membaca  lalu memahami, menafsirkan dan melakukan refleksi untuk menghasilkan sesuatu dari membaca itulah ciri khas orang cerdas. Jika siswa dilatih untuk membangun kebiasaan membaca dan memiliki kemampuan membaca yang mumpuni, maka ia akan memiliki wawasan yang luas. Bila seorang siswa memiliki wawasan yang luas, ia akan menjadi manusia bernas. Untuk menjadi manusia bernas, berbicara handal, dan memiliki kemampuan menulis yang cermat, harus diakui bahwa adat istiadat akademik adalah membaca dan menulis.

Sekolah adalah rumah adat siswa, tempat siswa melangsungkan ritual akademik, kata Dr. Marsel. Hanya dengan membaca kita dapat membaca dunia dan membuka gembok ilmu pengetahuan, kata Francis Bacon, pencetus filsafat aliran  empirisme.

Akhirnya, Gerakan  Menuju NTT Bersih dan NTT Cerdas, tidak hanya sebatas potret dengan maksud untuk memberi tahu “Asal Bapak Senang”. Gerakan ini perlu dikembangkan karena budaya akademik adalah membaca dan menulis.

 

 Penulis adalah Pelaku Pendidikan yang tinggal di Perbatasan Ri-RDTL.

Editor: Admin

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan