SENANDUNG DI ATAS BUKIT WADAS (SENYUM AWAL DESEMBER)

Minggu, 3 Desember 2017. Tanpa rencana yang matang, dengan persiapan yang seadanya, saya mengajak dua orang teman untuk sejenak berkunjung ke bukit itu. Untuk memenuhi kekepoan saya tentang apa yang akan terlihat bila berada di tempat itu. Di atas puncak bukit itu. Maklum, selama puluhan tahun saya berada di desa ini, belum sekalipun saya memberaniakn diri untuk “mampir” sejenak ke bukit itu sekalian untuk mengeksplorasi keindahan alam dari puncak bukit yang oleh masyarakat desa Tohe Leten disebut Likubauk, bukit wadas: susunan bukit dari batu karang yang sangat indah dipandang mata.

Kami berjalan membelah alam, melewati perkebunan warga yang sudah dipenuhi dengan anakan tumbuhan jagung yang subur lagi hijau. Perjalanan melelahkan memang untuk sampai ke hamparan perbukitan batu itu. Memasuki separuh perjalanan, Saya terpukau, ketika pandangan saya tertuju pada pemandangan di sekitarnya. Hamparan pepohonan hijau, tanaman jagung yang sudah mulai tumbuh, hamparan sabana disekitar, perbukitan dan pegunungan lakaan yang menjulang sangat indah, perbukitan duarato, kewar, nualain, bahkan perbukitan dan pegunungan di negara tentangga Timor Leste yang menjulang megah sejauh mata memandang. Kekepoan saya semakin bertambah seiring dengan keinginan saya untuk secepatnya mencapai puncak bukit batu karang itu. Keringat bercucuran karena terpaan sinar matahari di pagi itu cukup terik.

Langkah kami sempat terhenti karena kecapean, lelah, lemas, lapar, haus; bercampuran jadi satu. Kami melanjutkan perjalanan ini, menyelesaikan perjalanan tersisa yang sebentar lagi akan selesai.
Senyum awal desember ini akhirnya merekah. Merekah di puncak bukit likubauk, bukit wadas (batu karang). Merekah diantara adrenalin yang semakin terpicu karena berada pada ketinggian sekitar 200 meter diatas permukaan tanah. Lagi-lagi saya dan mereka terpanah, terpanah dengan ciptaan Tuhan yang luar biasa. Terpanah dengan suguhan pemandangan alam yang terlalu romantis.

Foto: Elloco/Pemandangan Alam Wadas-Tohe Leten

Kekaguman saya berlanjut pada sebuah desa kecil di kaki bukit itu. Sebuah lapangan mini (halaman sekolah) di tengah susunan bangunan SDK wilain yang semakin memperindah pemandangan desa kecil dari bukit batu karangnya. Dari likubauknya. Sulit bagi saya untuk tidak menyertakan sekolah ini. Tempat yang mengajarkan saya tentang banyak hal; tentang persahabatan, tentang persaudaraan, tentang dendam, tentang kisah masa kecil di bangku sekolah itu; tentang guru yang super galak, teman yang super kocak, pendiam, lugu, polos,,,ahhhhhhhhh terlalu banyak hal sentimentil dan emosional yang terjadi antara saya, kita, kami dan mereka; Keriangan-keriangan dungu yang selalu membuat kami terjebak dalam nostalgia masa kecil. Inilah alasan kenapa desa ini selalu menjadi daya tarik untuk kepulangan saya. Selalu ada waktu bagi saya untuk kembali ke desa ini.

Semoga kedepannya Sama soeperti yang saya rasakan ketika di jogja, Desa ini adalah kesadaran. Kesadaran bahwa desa ini menjadi penting bagi banyak orang karena membuat tiap-tiap yang datang merasa memiliki. Kesadaran bahwa di desa ini, uang bukan segalanya, meskipun segalanya butuh uang, tetapi yang terpenting adalah menjadikan alam dan semua yang ada dilamnya teman dalam setiap cerita dan sahabat dalam setiap waktu.

 

Tohe leten, 5 Desember 2017
Penulis: Ellocho

Editor: Evo

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan