Demontrasi Plot Jarak Tanam Padi dengan Sistem Legowo

       (Tohe Broadband) Jenis Padi ini adalah Impari 6 yang merupakan salah satu program dari Departemen Pertanian untuk mensuseskan operasi khususnya di Desa Tohe Kecamatan Raihat Kabupaten Belu. Padi Jenis ini merupakan hasil seleksi dari Dekava line 85 dengan Membramo, umur tanamnya kurang lebih 115 hari. Tutur Seran Hendrikus, ST sebagai Penyuluh Pertanian sekaligus merangkap sebagai Koordinator PPL Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu-NTT dalam wawancara Tim Desa Broadband Terpadu Desa Tohe di Kantor Pusat Informasi Masyarakat (PIM) Desa Tohe pada Rabu/27/04/2016 lalu.

       Sebagai Penyuluh Pertanian bapak Seran Hendrikus pada musim tanam tahun ini melakukan percontohan/demonstrasi Plot tentang jarak tanaman padi memakai jajar Legowo/sistem 2:1, pada lahan pertanian dengan menggunakan lahan milik salah satu petani di Desa Tohe Kecamatan Raihat Kabupaten Belu, Petrus Damianus Mau sekaligus sebagai Demonstran. Luas lahan yang dipakai sebagai lahan percontohan ini berukuran 95 a/0,90 Ha, dengan maksud agar sistem penanaman ini bisa ditiru oleh masyarakat/petani di Desa Tohe.

       Padi Impari 6 yang saat ini sudah berumur 39 hari tersebut sudah diaplikasikan dengan pemupukan rutin sebanyak tiga kali menggunakan pupuk Urea, DSP dan NPK. Sebelumnya pada saat pembibitan sendiri sudah dilakukan penyemprotan sebanyak tiga kali untuk mencegah penanggulangan hama dan penyakit. Sementara untuk  merangsang pertumbuhan padi Impari 6 ini digunakan suatu sat perangsang namanya Gibro, sedangkan untuk  mengatasi penyakit dengan menggunakan obat Kuproksat dan Sinergi. Padi ini rencananya akan dipanen pada umur 100 hari tanam yakni tanggal 15 Mei 2016 mendatang.

       Keunggulan dari padi jenis ini bila ditanam di daerah dataran rendah hingga tinggi ialah umur genjah dengan umur panen 115-118 hari, memiliki rata-rata hasil yang tinggi  6,82 t/ha (potensi hasil 12 t/ha), dan rasa nasinya pulen/empuk bila dibandingkan dengan jenis padi lainnya.

       Tanggapan Penyuluh sekaligus Koordinator PPL Kecamatan
Raihat tentang kondisi persawahan di Desa Tohe saat ini Beliau berkomentar; “kalo saya lihat yang
dekat sumber air Webot mulai dari Srinlulik sampai dengan Malitobaau petani
masih bisa panen tetapi untuk daerah dibawahnya sampai Kakekutuan mengalami
gagal karena kekurangan air oleh pengaruh badai elnino. Dari jumlah petani di Tohe ±
8% petani yang mengalami gagal panen. Artinya tidak semua petani mengalami
gagal panen. Yang tanam padi sejak bulan Desember hingga Februari  pasti memanen hasil yang banyak, tetapi yang
Petani yang masa tanamnya pada bulan Maret itu yang masi diragukan hasilnya. Ini dikarenakan
faktor kekurangan air dan curah  hujan yang
tidak stabil bahkan tidak sama sekali di daerah pertanian tertentu”.

       Secara keseluruhan Desa tohe memiliki 345 hektar luas lahan  persawan yang  siap digarap setiap tahunnya. Namu pada musim
tanam 2015-2016 ini hanya 178 hektar luas lahan persawahan yang digarap
sementara 167 Hektar yang tidak digarap pada musim tanam ini. Hasil produksi tertinggi pada tahun lalu mencapai 9,28 ton
gabah kering panen per hektar dan produksi terendahnya adalah 3,75 ton gabah
kering panen per hektar. Evo

Narasumber: Seran Hendrikus, ST (Penyuluh Pertanian/Koordinator PPL Kecamatan Raihat)
Foto: Seran Hendrikus, ST

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan